Kepala Sekolah SMA Negeri 12 Depok, Jawa Barat, Tuti Herawati, M.Pd. (Foto: ISTIMEWA)

DEPOK, Eranasional.com – Berlokasi di kawasan Jalan raya Cipayung, keberadaan SMA Negeri 12 Depok, Jawa Barat, sangat dibutuhkan oleh masyarakat di sekitarnya, bahkan di luar Kecamatan Cipayung.

Walau lokasinya di pinggiran kota, prestasi SMAN 12 Depok tidak kalah dengan sekolah-sekolah yang berada di tengah kota. Ini terbukti dari beberapa prestasi akademik dan nonakademik yang diraih para siswanya yang meraih piala kejuaraan dan piagam penghargaan di antaranya Paskibra dan bidang olahraga bela diri seperti Pencak Silat, Taekwondo, dan Karate.

Prestasi lainnya yang diraih yaitu olahraga Bola Basket hingga tari tradisional dan Olimpeade Olahraga Siswa Nasional (02SN) baik tingkat Provinsi maupun tingkat Nasional.

Kepala Sekolah SMAN 12 Depok, Tuti Herawati, M.Pd mengaku bangga dengan prestasi-prestasi yang diraih oleh peserta didiknya.

“Walaupun lokasi sekolah kami di pinggiran Kota Depok, tapi prestasi kami tidak kalah dengan sekolah-sekolah yang berada di tengah kota,” kata Tuti Herawati kepada Eranasional.com, pekan kemarin.

Kepala Sekolah SMA Negeri 12 Depok, Jawa Barat, Tuti Herawati, M.Pd bersama anak-anak didiknya di sebuah kegiatan. (Foto: ISTIMEWA)

Tuti mengakui bahwa banyak program kegiatan di SMAN 12 Depok yaitu melanjutkan dari program-proram kepala sekolah sebelum dirinya. Salah satu program unggulan yang merupakan budaya baru yaitu kegiatan ‘Morning Smadas Spirit’ dan ajang lomba pembuatan film Supervisi Inovasi Pembelajaran untuk para guru.

“Saya hanya meneruskan saja program yang telah dibuat oleh para kepala sekolah sebelumnya. Kami tinggal meneruskan program-program yang sifatnya meningkatkan kompetensi para siswa dan guru,” ujarnya.

“Dan, salah program unggulan kami adalah Morning Smadas Spirit dan ajang lomba pembuatan film supervisi inovasi pembelajaran bagi para guru, yang reward-nya akan diberikan pada Hari Guru,” sambungnya.

Kepala Sekolah SMA Negeri 12 Depok, Jawa Barat, Tuti Herawati, M.Pd. (Foto: ISTIMEWA)

Dia menjelaskan, kegiatan Morning Smads Spirit dilakukan setiap pagi sebelum kegiatan belajar mengajar. Dia menyebut kegiatan ini sangat efektif dan memberikan manfaat bagi para siswa bahkan guru-guru.

“Morning Smadas Spirit merupakan kegiatan menyapa pagi, guru-guru menyapa siswa-siswanya. Ini merupakan inovasi baru di lingkungan SMAN 12 Depok yang bertujuan memberi contoh kepada para siswa perihal kedisplinan, komunikasi dan penyampaian informasi tentang kegiatan sekolah,” terang Tuti.

Tuti Herawati menyebut, saat ini ada 860 siswa terdaftar di SMAN 12 Depok, 20 persen di antaranya adalah dari keluarga yang kurang mampu.

“Ada 39 guru, 20 ruang kelas, kelas 12 ada 5 rombel (kelompok peserta didik), kelas 7 ada 7 rombel, dan kelas 10 ada 8 rombel,” paparnya.

Siswa dan siswi SMA Negeri 12 Depok, Jawa Barat, menggelar kegiatan kerohanian beberapa waktu lalu. (Foto: ISTIMEWA)

Sarana dan Prasana

Tuti Herawati lalu menyinggung soal sarana dan prasarana yang dimiliki SMAN 12 Depok, diakuinya masih ada beberapa bagian perlu ada perbaikan, salah satunya keberadaan pintu masuk sekolah.

“Pintu depan masuk ke sekolah masih terlihat memprihatinkan, sehingga kami merasa perlu ada upaya untuk mempercantiknya,” ucap Tuti Herawati.

Dia pun mewakili pelajar milenial SMAN 12 Depok menyampaikan apresiasinya terhadap Unit Kerja Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat. Diungkapkannya, pihaknya memiliki harapan yang tinggi terhadap Unit Kerja Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat.

“Kepemimpinan yang menjadi teladan kami adalah yang mampu merealisasikan program sesuai kebutuhan dan mewujudkan visi misi yang jelas dan terukur,” ucapnya.

Kepala Sekolah SMA Negeri 12 Depok, Jawa Barat, Tuti Herawati, M.Pd. (Foto: ISTIMEWA)

Terpenting, lanjut Tuti, program-program tersebut dapat mewadahi kreativitas peserta didik sesuai dengan kebutuhan zaman.

Dia pun menyebutkan tantangan terberat dalam proses pengambilan keputusan terkait dengan dilema etika. Di SMAN 12 Depok hanya memiliki 2 Calon Guru Penggerak (CGP) dan 1 Pengajar Praktik (PP), di mana berbagai tugas harus segera diselesaikan sehingga berefek pada kinerja di sekolah sedikit terbengkalai.

Meski begitu, kata Tuti, pihaknya memiliki solusi sebagai jawaban dari persoalan itu, yakni dengan menggunakan team teaching (pengajaran beregu), yaitu diwakili oleh guru sesama mata pelajaran melalui metode colaboration form.

“Alhamdulillah, semuanya bisa teratasi dengan baik, meski masih ada beberapa kendala,” pungkasnya.