Jakarta, ERANASIONAL.COM –– Mantan Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Dwikorita Karnawati menegaskan banjir bandang yang melanda sebagian wilayah Sumatera bukan murni alamiah
Menurut Dwikorita bencana tersebut jika terjadi secara alamiah tidak akan sedahsyatnya sekarang ini.
“Memang alamiahnya rentan dapat menimbulkan bencana, tapi bencananya tidak akan sedahsyat saat ini,” kata Dwikorita dalam acara Pojok Bulaksumur di UGM, Sleman, DIY, Kamis (4/12).
Dwikorita menjelaskan, kawasan sekitar Bukit Barisan yang membentang dari Aceh hingga Lampung rentan terjadi banjir bandang karena karakteristik perbukitan tersebut.
“Dan ciri sungai-sungai di pegunungan Perbukitan Barisan, yang merupakan pegunungan patahan, sungainya itu sempit-sempit, menyiku sempit begitu. Sehingga terbendung oleh tumpukan longsor tadi bersama kayu-kayu,” paparnya.
Dwikorita mengatakan, usai banjir bandang di Taman Nasional Gunung Leuser, tepatnya Daerah Aliran Sungai (DAS) Bahorok, kawasan Pegunungan Bukit Barisan pada tahun 2003 silam, ia terjun ke lokasi untuk melakukan kajian melalui wawancara warga setempat.
Hasilnya, diperoleh data dan informasi bahwa banjir bandang serupa di lokasi tersebut pernah terjadi 50 tahun sebelumnya. Dwikorita menangkap ini sebagai sebuah fenomena alamiah.
Pada saat itu, longsor pemicu banjir bandang terjadi karena gempa tektonik bermagnitudo rendah yang tidak dirasakan manusia. Kawasan hijau atau pepohonan di daerah aliran sungai dari video udara terlihat tercerabut hingga ke akar.
Hasil video udara, area vegetasi terkena longsor membentuk pola cakar atau berbeda dengan bekas bekas hasil pembalakan liar.
Hanya saja, yang catatan menjadi Dwikorita adalah fenomena alamiah macam ini lazimnya periode ulangnya cukup panjang. Mengacu pada penelitian tahun 2003 lalu, siklusnya disinyalir membutuhkan waktu sekitar 50 tahun untuk berulang.
“Sehingga, kesimpulannya kalau itu memang benar-benar alam, mestinya sekarang belum terjadi. Masih kira-kira kalau itu tahun 2003, 50 tahun lagi ya 2053 begitu. Sekarang masih 2025, masih separuh (siklus),” kata Guru Besar bidang Geologi Lingkungan dan Mitigasi Bencana yang juga mantan rektor UGM tersebut.
Selain itu, kejadian pada tahun 2003 lalu banjir bandang hanya melanda satu titik Daerah Aliran Sungai (DAS) saja. Beda dengan yang belakangan terjadi di banyak titik DAS. Dwikorita pun melihat ada aspek non-alamiah di balik perubahan-perubahan ini.
Dwikorita menduga ada pengaruh antropogenik yang memicu perubahan pada situasi lahan. Ia tidak mengumbar bentuk campur tangan manusia ini, tapi inilah yang memperpendek siklus banjir bandang di sana.
“Hari itu berarti kan ada aspek non-alamiah yang sifatnya memperparah dan kejadiannya saat itu tidak sedahsyat saat ini. SAS yang terkenal itu kan banyak, saat itu tahun 2023 hanya satu DAS saja yang terkena. Jadi aspek non-alamiah itu memperparah kejadian bencana dari sisi lebih sering terjadi, periode ulangnya lebih pendek, intensitasnya lebih dahsyat, dan sebenarnya lebih meluas itu peran non-alamiah” tandas dia.

Tinggalkan Balasan