TNI juga menyatakan akan terus berkoordinasi dengan aparat keamanan setempat untuk menjamin keselamatan penerbangan perintis yang menjadi akses vital masyarakat pedalaman Papua.

Sementara itu, Satuan Tugas Operasi Damai Cartenz menyatakan telah mengidentifikasi kelompok yang diduga terlibat dalam penembakan.

Kepala Satgas Humas Operasi Damai Cartenz, Komisaris Besar Yusuf Sutejo, menjelaskan bahwa pelaku berasal dari kelompok yang oleh pemerintah disebut sebagai Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB).

Menurut Yusuf, kelompok tersebut terafiliasi dengan faksi yang dikenal sebagai Batalion Kanibal dan Semut Merah yang beroperasi di wilayah Yahukimo, Papua Pegunungan.

“Aparat gabungan saat ini masih melakukan pengejaran. Proses penegakan hukum akan dilakukan secara profesional dan terukur,” ujarnya.

Istilah KKB sendiri merupakan sebutan yang digunakan pemerintah Indonesia untuk merujuk pada kelompok bersenjata yang berafiliasi dengan TPNPB-OPM.

Di sisi lain, Juru Bicara TPNPB-OPM, Sebby Sambom, mengakui bahwa kelompoknya berada di balik penembakan tersebut. Ia menyatakan serangan dilakukan karena pesawat tersebut dicurigai mengangkut aparat TNI-Polri ke wilayah yang mereka klaim sebagai teritorialnya.

Sebby menyebut tindakan itu sebagai bentuk pertahanan diri dan menuding adanya pelanggaran hukum humaniter internasional apabila pesawat sipil digunakan untuk kepentingan militer.

“Pesawat sipil tidak boleh mengangkut militer dan polisi Indonesia ke wilayah kami. Jika itu terjadi, maka pesawat tersebut menjadi target,” ujar Sebby dalam pernyataannya, Sabtu, 14 Februari 2026.

Namun, pernyataan tersebut dibantah tegas oleh pihak TNI yang menyebut tidak ada personel militer dalam penerbangan tersebut.