Pekalongan, ERANASIONAL.COM – Melestarikan tradisi sekaligus mempererat tali silaturahmi menjadi nyawa utama perayaan Syawalan di Kota Pekalongan tahun ini.

Warga memadati kawasan Krapyak demi menyaksikan pemotongan Lopis Raksasa yang legendaris dan penuh makna mendalam bagi masyarakat setempat.

Bukan sekadar hidangan ketan biasa, Lopis Raksasa yang hadir setiap 8 Syawal ini kini menyandang status sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB). Status ini menjadi pengakuan formal atas kekayaan budaya lokal yang terus dijaga konsistensinya melintasi berbagai generasi.

Wali Kota Pekalongan, Achmad Afzan Arslan Djunaid, menyebut tradisi ini terus berkembang pesat setiap tahun, baik dari segi ukuran maupun antusiasme masyarakat meski sempat terkendala teknis.

Setiap tahun semakin besar dan antusias warga juga luar biasa. Walaupun tadi sempat sedikit terlambat, tidak menyurutkan semangat,” ujarnya, Sabtu (28/3/2026).

Afzan menegaskan kesuksesan acara ini merupakan hasil kolaborasi solid antara pemerintah, panitia, para donatur, hingga seluruh lapisan masyarakat. Ia juga memberi perhatian khusus kepada warga yang masih terdampak banjir agar tetap bisa merasakan kemeriahan tradisi ini.

“Tadi saya usul ke panitia agar lopis juga bisa dibagikan ke saudara-saudara kita di Pasirsari dan sekitarnya yang masih kebanjiran,” ungkap Aaf, sapaan akrab Wali Kota Pekalongan.

Ia berharap kebahagiaan Syawalan di Krapyak bisa menyentuh seluruh lapisan warga tanpa terkecuali.

Ke depan, Pemkot Pekalongan berencana mengembangkan tradisi ini lebih jauh, termasuk kemungkinan mencetak rekor ukuran yang lebih besar lagi.

“Tahun depan mudah-mudahan bisa lebih besar lagi. Kita juga ingin terus mengangkat budaya khas Kota Pekalongan lainnya,” tambahnya.

Di balik megahnya lopis seberat 2.083 kg ini, tersimpan perjuangan fisik luar biasa dari para panitia dan sesepuh di kawasan Krapyak. Proses memasaknya tidak sembarangan karena membutuhkan waktu tiga hari tiga malam dengan penjagaan api yang konstan.

Wakil Wali Kota Pekalongan, Balgis Diab, menceritakan bagaimana panitia harus bergiliran menjaga tungku kayu bakar agar masakan tidak rusak.

“Lopis ini dimasak selama 3 hari 3 malam dan bergiliran, enggak tidur ya. Kalau tertidur nanti takutnya gosong,” tutur Balgis.

Bagi warga setempat, proses memasak ini juga dibarengi dengan ritual spiritual seperti iktikaf dan zikir untuk memastikan hasil yang sempurna. Panitia menyelipkan doa-doa baik di setiap kepul asap kayu bakar agar penganan ini membawa keberkahan bagi yang memakannya.

Tahun ini, standar kualitas lopis ditingkatkan secara signifikan, terutama dari sisi higienitas bahan baku dan diameter yang mencapai 262 cm.

“Tadi kebanggaan kita, perbedaan dengan tahun lalu: pertama dari sisi higienitasnya. Kedua, lopis kita tampaknya lebih besar,” jelas Balgis.

Saking besarnya ukuran tersebut, Balgis sempat berseloroh mengenai diameter raksasa lopis yang tahun ini mencapai tinggi hingga 239 cm. Ia bergurau bahwa lebar lingkaran lopis tersebut bahkan bisa digunakan untuk membuat dua setel baju untuk dirinya sendiri.

Meski kental dengan ritual zikir selama pembuatan, Balgis menekankan bahwa Lopis Raksasa murni merupakan simbol sosial bagi masyarakat Pekalongan. Beliau menegaskan tidak ada unsur mistis yang melekat pada penganan berbahan dasar ketan yang lengket tersebut.

“Lopis ini hanya sebagai perekat silaturahmi, tidak ada unsur-unsur mistis lainnya,” tegas Balgis di tengah kerumunan warga yang hadir. Menurutnya, tekstur lopis yang lengket melambangkan kuatnya rasa persatuan dan kesatuan antarwarga Kota Batik.

Tradisi Syawalan ini ditutup dengan pembagian lopis kepada warga yang sudah mengantre sejak pagi dengan tertib dan penuh kegembiraan. Hal ini membuktikan bahwa budaya lokal mampu menjadi jembatan kebersamaan yang kokoh di tengah dinamika masyarakat saat ini. (em-aha)