Pekalongan, ERANASIONAL.COM – MAN 1 Kota Pekalongan memperingati Hari Pahlawan dengan menampilkan drama kolosal berjudul Pertempuran Surabaya 10 November di lapangan setempat, Senin (10/11/2025).
Pertunjukan dilaksanakan usai upacara peringatan Hari Pahlawan selesai, kegiatan ini melibatkan Teater Bayang dan beberapa organisasi aktivis MAN 1 Kota Pekalongan.
Penulis naskah dan sutradara, Najibul Mahbub, menyebutkan bahwa lebih dari 65 siswa terlibat dalam drama ini.
“Kami memilih cerita Pertempuran Surabaya karena Hari Pahlawan lahir dari peristiwa tersebut. Jadi, kami ingin menghadirkannya sebagai pengingat sejarah bagi seluruh siswa,” jelasnya.
Ia menuturkan, antusiasme warga madrasah sangat luar biasa. Para siswa, guru, dan tamu undangan menyaksikan pementasan dengan tenang dan penuh khidmat dari awal hingga akhir.
Persiapan drama ini dilakukan melalui beberapa tahapan, mulai dari penulisan naskah, seleksi pemeran, diskusi konseptual, hingga latihan intensif.
“Kami latihan sekitar 10–15 hari. Setelah naskah jadi, kami pilih pemain, diskusi konsep, lalu latihan maraton. Alhamdulillah hasilnya memuaskan,” ujarnya.
Menurutnya, pementasan ini bukan sekadar hiburan, tetapi sarana pendidikan karakter bagi generasi muda. Dahulu para pahlawan meneteskan darah, bahkan memberikan nyawa demi negeri ini dan kita tinggal menikmati hasilnya.
“Maka tugas kita adalah mengisi kemerdekaan dengan hal-hal positif, bukan saling membenci atau mencaci. Kalau perpecahan terjadi, negara ini bisa runtuh, dan perjuangan para pahlawan akan sia-sia,” tegasnya.
Ia mengungkapkan bahwa pujian datang dari Kepala MAN 1 Kota Pekalongan, Mimbaf yang menilai kegiatan ini sebagai program edukatif dan inspiratif. Drama kolosal ini dinilai mampu memperkuat jiwa nasionalisme serta menanamkan rasa cinta tanah air pada siswa.
Sementara itu, Pemeran utama, Alwi, yang berperan sebagai Rudi, mengaku sangat bangga dapat terlibat dalam pementasan besar ini. “Seneng banget, seru. Ini pengalaman yang bisa dikenang. Ini pertama kali ikut drama,” ungkapnya.
Ia menceritakan bahwa proses latihan tidak mudah. Siswa harus belajar teknik peran dan penghayatan, namun kerja keras mereka terbayar pada hari pementasan yang berjalan lancar.
“Kami latihan dari jam 3 sampai jam 5 sore. Belajarnya sulit, tapi akhirnya bisa. Semoga nanti kalau ada pementasan lagi bisa lebih berkembang dan lebih mantap,” tambahnya.
Dirinya mengaku kegiatan ini mendapat sambutan hangat dari seluruh warga madrasah. Guru dan siswa menyaksikan pertunjukan dengan penuh antusias, menyimak setiap adegan yang disuguhkan dengan semangat dan penghayatan.
Drama kolosal ini mengisahkan perjuangan rakyat Surabaya melawan kembalinya penjajah Belanda setelah kemerdekaan.
Cerita berfokus pada dua pemuda, Rudi dan Samsul, yang berani melawan pasukan bersenjata lengkap hanya dengan bambu runcing. Tokoh Ibu Siti tampil sebagai simbol pengorbanan dan doa seorang ibu bagi anaknya di medan perang.
Suasana semakin hidup dengan efek suara ledakan, asap simbolik, dan iringan musik perjuangan. Penonton dibuat hanyut saat orasi Bung Tomo menggema di panggung, membangkitkan semangat sebagaimana peristiwa 10 November yang sesungguhnya.
Pementasan ditutup dengan pembacaan puisi “Gugur” dan pengibaran bendera Merah Putih, menegaskan bahwa pengorbanan pahlawan akan selalu abadi di hati generasi penerus bangsa.
Melalui pertunjukan ini, MAN 1 Kota Pekalongan berhasil menghadirkan drama yang tidak hanya menghibur, tetapi juga menggugah kesadaran akan pentingnya menjaga persatuan serta mengisi kemerdekaan dengan tindakan positif dan penuh rasa cinta tanah air. (em-aha)

Tinggalkan Balasan