Pekalongan, ERANASIONAL.COM – Warga Kota Pekalongan dibuat heboh oleh kemunculan sebuah spanduk misterius yang sempat terpasang di pagar salah satu SD negeri.
Spanduk tersebut berisi tuduhan bernada provokatif yang menyerang pribadi seorang oknum kepala sekolah, hingga memunculkan keresahan di masyarakat dan lingkungan pendidikan.
Spanduk tersebut beredar di media sosial sejak Minggu malam (16/11/2025), memicu berbagai spekulasi publik. Namun, sebelum pihak berwenang tiba di lokasi, spanduk itu sudah menghilang tanpa jejak, tidak diketahui siapa yang memasang maupun mencabutnya.
Menindaklanjuti laporan warga, Dinas Pendidikan (Dindik) Kota Pekalongan bergerak cepat dengan menggelar pertemuan tertutup bersama unsur Bhabinkamtibmas, Babinsa, kepala kelurahan, camat, hingga pihak sekolah di Kantor Kelurahan Kalibaros pada Senin (17/11/2025).
Plt Kepala Dinas Pendidikan yang juga Ketua PGRI Kota Pekalongan, Mabruri, menegaskan bahwa, pihaknya telah melakukan pemeriksaan langsung di lapangan, namun tidak ada satu pun pihak sekolah yang mengetahui keberadaan maupun waktu pemasangan spanduk tersebut.
“Tidak ada satu pun warga sekolah yang tahu soal spanduk itu. Spanduk itu juga tidak ada di tempat. Nggak tahu kapan masangnya, kapan melepasnya, tiba-tiba sudah tidak ada. Penjaga sekolah yang datang paling pagi pun bilang saat tiba di lokasi spanduk itu sudah tidak ada. Jadi memang benar-benar spanduk yang misterius,” jelas Mabruri.
Dalam pertemuan tersebut, Dindik bersama seluruh unsur terkait membahas langkah preventif untuk menjaga situasi agar tidak semakin memanas.
“Kami bersama Pak Bhabin, kepala sekolah, unsur guru, dan pihak kelurahan berdiskusi untuk menyikapi hal ini. Karena sifatnya misterius, ya kita pasang telinga saja dulu,” ungkapnya.
Ia menambahkan bahwa, isu sensitif seperti ini sangat berpotensi mengganggu lingkungan belajar, terlebih SD tersebut baru mulai mengalami peningkatan jumlah murid.
“Kami berharap situasi ini bisa mereda, karena berada di lingkungan sekolah. Ini sangat sensitif bagi anak-anak maupun orang tua murid. Untuk menjaga citra sekolah itu sulit. Kalau ada situasi seperti ini bisa memengaruhi,” terangnya.
Mabruri menegaskan, Dindik membuka pintu komunikasi seluas-luasnya bagi masyarakat untuk memberikan laporan resmi maupun informasi tambahan.
“Kami sangat terbuka jika ada aspirasi atau laporan. Silakan disampaikan langsung ke dinas, bukan memasang spanduk yang legalitasnya tidak jelas. Itu dipasang di tempat milik pemerintah, dan kontennya sangat sensitif,” tegasnya.
Menjawab kemungkinan adanya aduan terkait perilaku oknum kepala sekolah, Mabruri menyebut sudah ada langkah antisipasi.
“Kami sudah berkoordinasi dengan BKPSDM untuk antisipasi itu. Jika nanti ada laporan resmi, prosedur kepegawaian akan kita jalankan. Antisipasinya seperti itu,” ujarnya.
Hingga kini, Dinas Pendidikan Kota Pekalongan bersama pihak kepolisian dan unsur pemerintah kelurahan masih mengumpulkan informasi terkait pelaku pemasangan spanduk. Karena mengandung tuduhan personal, kasus ini masuk dalam kategori sensitif dan perlu penanganan hati-hati.
“Kami menghimbau masyarakat agar tidak terprovokasi maupun menyebarkan spekulasi tanpa dasar, sambil menunggu hasil penelusuran lebih lanjut,” kata Mabruri.
Alimin (53), warga RT. 4 RW. 3 Kelurahan Kalibaros atau sekitar sekolah turut memberikan penjelasan terkait situasi di lingkungan sekolah. Ia mengaku mengetahui keberadaan spanduk itu justru dari penjaga sekolah.
“Masalah pemasangan itu dari warga sini tidak ada yang tahu sama sekali. Lingkungan sini memang sepi. Saya tahu soal spanduk dari Pak Bon sekolahan, itu tadi sekitar jam 10.00 pagi,” ungkapnya saat ditemui Eranasional di rumahnya.
Saat ditanya apakah ada warga yang melihat pemasangan spanduk tersebut, ia menegaskan sama sekali tidak ada yang mengetahui.
“Iya, sama sekali nggak ada yang tahu. Saya sebagai warga terdekat juga tahunya setelah dikonfirmasi Pak Bon,” tuturnya.
Alimin menyebut aktivitas sekolah biasanya hanya ramai hingga siang hari.
“Kalau aktivitas sekolah itu ramai pagi sampai sekitar jam dua siang. Setelah itu nggak ada kegiatan lagi,” ujarnya.
Menurutnya, dari foto yang beredar di media sosial, spanduk terlihat terpasang pada waktu siang. Namun, ia tidak bisa memastikan jam pastinya.
“Kalau lihat fotonya ya kayak siang. Tapi Saya enggak bisa memastikan. Saya tahunya pas lihat video di Instagram, kok aneh temen, gitu. Nggak ada yang tahu sama sekali,” tukasnya. (em-aha)

Tinggalkan Balasan