“Kami berharap semua pihak yang pernah terlibat dapat terus pulih, berdamai dengan masa lalu, dan menjalani kehidupan yang lebih baik ke depan,” tulisnya.
Dalam klarifikasinya, Kak Seto juga menyoroti kondisi perlindungan anak di Indonesia yang menurutnya hingga kini masih menjadi tantangan besar. Ia menyebut masih banyak persoalan anak di Tanah Air yang membutuhkan perhatian serius, kepedulian, serta kerja bersama lintas sektor, baik secara sukarela maupun profesional.
“Saat ini kita masih dihadapkan pada begitu banyak persoalan anak di tanah air. Masih banyak pekerjaan rumah yang membutuhkan perhatian, kepedulian, dan kerja bersama,” pungkas Kak Seto.
Klarifikasi ini disampaikan di tengah ramainya kembali pembahasan publik terkait kasus yang terjadi lebih dari sepuluh tahun lalu dan menyeret nama Kak Seto sebagai mantan Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA).
Sebelum memoar Broken Strings menjadi perbincangan luas pada awal 2026, kisah masa lalu Aurelie Moeremans sebenarnya telah sempat dibawa ke ranah lembaga perlindungan anak pada sekitar tahun 2010. Berdasarkan sejumlah laporan yang kembali diangkat publik, Jean Marc Moeremans, ayah Aurelie, pernah mengajukan pengaduan ke Komnas PA terkait dugaan permasalahan serius yang melibatkan putrinya.
Pengaduan tersebut disampaikan ketika Komnas PA masih dipimpin oleh Kak Seto. Dalam laporannya, pihak keluarga berharap lembaga perlindungan anak dapat mengintervensi pihak yang dinilai berpengaruh negatif terhadap kehidupan Aurelie saat itu.

Tinggalkan Balasan