Menu tersebut dirancang untuk memenuhi kebutuhan gizi peserta didik sesuai pedoman MBG, yang mencakup unsur karbohidrat, protein, sayuran, dan buah.
Namun, menu kering yang berisi pisang, potongan ubi ungu, dan kental manis merupakan paket cadangan atau paket konsumsi satu hari yang dibagikan lebih awal. Paket inilah yang kemudian direkam dan disebarluaskan oleh salah satu wali murid tanpa penjelasan konteks, sehingga menimbulkan persepsi keliru di masyarakat.
Ageng memastikan bahwa setelah video tersebut viral, pihak SPPG bersama penanggung jawab di lapangan langsung melakukan diskusi dan mediasi dengan pihak sekolah dan orang tua siswa.
“Kami sudah melakukan diskusi dan mediasi. Saat ini kondisi sudah kondusif dan aman. Semua pihak sepakat untuk berdamai agar masalah ini tidak berlarut-larut,” ujarnya.
Menurut Ageng, tidak ada niat dari pihak penyelenggara MBG untuk mengurangi kualitas atau porsi makanan bagi peserta didik. Program MBG tetap dijalankan sesuai standar yang telah ditetapkan oleh pemerintah.
Meski situasi telah kondusif, pihak SPPG mengakui bahwa peristiwa ini menjadi bahan evaluasi penting. Salah satu fokus utama ke depan adalah penguatan sosialisasi kepada orang tua siswa agar tidak terjadi kesalahpahaman serupa.
“Kami akan meningkatkan sosialisasi kepada wali murid agar mereka memahami perbedaan menu basah dan menu kering, serta jadwal distribusi MBG,” kata Ageng.

Tinggalkan Balasan