Bali, ERANASIONAL.COM – Arak Bali, minuman tradisional hasil destilasi dari bahan baku lokal seperti kelapa dan aren, kini mencatatkan prestasi membanggakan. Gubernur Bali Wayan Koster menyebut produk ini menjadi salah satu best seller di duty free Bandara I Gusti Ngurah Rai. Dalam rapat koordinasi Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) dan Tim Percepatan dan Perluasan Digitalisasi Daerah (TP2DD) Bali, Koster mengungkapkan bahwa penjualan arak Bali mencapai 6.000 hingga 7.000 botol per bulan. Angka tersebut bahkan mengalahkan penjualan merek minuman keras internasional yang selama ini mendominasi pasar global.
“Produk arak Bali jadi best seller, mengalahkan label dunia,” ujar Koster di Denpasar, Selasa (10/2).
Pernyataan ini menunjukkan bahwa arak Bali tidak hanya diminati masyarakat lokal, tetapi juga wisatawan mancanegara yang berangkat melalui Bandara Ngurah Rai. Popularitas arak Bali di pasar internasional menjadi bukti bahwa produk tradisional Indonesia mampu bersaing dengan merek global.
Namun, di balik pencapaian tersebut, Koster merasa gerah. Ia menyoroti fakta bahwa izin penjualan arak Bali di duty free justru dimiliki oleh warga negara asing.
“Yang kurang membuat bahagia adalah yang dapat izin jualan itu warga negara asing,” katanya.
Hal ini menimbulkan pertanyaan besar mengenai akses pelaku usaha lokal terhadap pasar strategis seperti bandara internasional. Menurut Koster, kondisi ini tidak adil karena UMKM lokal yang memproduksi arak Bali dengan susah payah justru tidak mendapat keuntungan maksimal.
Harga jual arak Bali di duty free mencapai sekitar Rp800 ribu per botol. Padahal, harga produksi dari perajin lokal relatif rendah. Nilai tambah yang diterima petani kelapa dan aren juga masih kecil, hanya naik dari Rp15 ribu menjadi Rp40 ribu.
“Kami yang buat peraturan gubernur, saya dorong dan promosi arak, begitu bagus yang lain dapat untung banyak, kan tidak benar itu,” tegas Koster.

Tinggalkan Balasan