Menurut kesaksian tersebut, aparat keamanan kampus segera datang ke lokasi dan berupaya menghentikan aksi pelaku. Upaya pengamanan berlangsung cepat sebelum pelaku kembali mengayunkan senjata ke arah korban. Situasi sempat mencekam hingga akhirnya terduga pelaku berhasil diamankan.

Kasatreskrim Polresta Pekanbaru, AKP Anggi Rian Diansyah, membenarkan bahwa pelaku telah ditahan di Polsek Binawidya berikut barang bukti berupa kapak dan parang yang diduga digunakan dalam penyerangan. Pihak kepolisian masih mendalami motif serta kronologi detail kejadian, termasuk kemungkinan adanya perencanaan sebelumnya.

Korban saat ini menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit Bhayangkara Pekanbaru akibat luka bacok cukup dalam pada bagian kepala dan tangan. Tim medis melakukan tindakan cepat untuk mencegah komplikasi, dan korban direncanakan dirujuk ke fasilitas kesehatan dengan peralatan lebih lengkap guna memastikan proses pemulihan berjalan maksimal.

Dugaan sementara menyebutkan insiden tersebut dipicu persoalan pribadi terkait hubungan antara pelaku dan korban. Meski demikian, kepolisian menegaskan bahwa penyelidikan masih berlangsung dan semua kemungkinan tetap didalami secara profesional.

Peristiwa ini memunculkan refleksi luas tentang pentingnya sistem deteksi dini terhadap potensi kekerasan di kampus. Selain penguatan regulasi, sejumlah pengamat pendidikan menilai perlunya layanan konseling yang lebih proaktif, peningkatan literasi kesehatan mental, serta mekanisme pelaporan yang mudah diakses dan menjamin kerahasiaan pelapor.

Bagi Hetifah, tragedi ini harus menjadi momentum evaluasi menyeluruh terhadap sistem keamanan kampus. Ia menekankan bahwa pencegahan jauh lebih penting daripada penindakan setelah kejadian. Kampus diharapkan memperkuat pengawasan internal, meningkatkan kapasitas satuan pengamanan, serta membangun budaya dialog dan penyelesaian konflik secara damai.

“Kita tidak ingin ada lagi mahasiswa yang menjadi korban kekerasan di lingkungan pendidikan. Kampus harus menjadi ruang yang inklusif, aman, dan mendukung pertumbuhan intelektual maupun karakter,” tegasnya.

Kasus di UIN Suska Riau ini menjadi alarm bagi seluruh perguruan tinggi di Indonesia bahwa keamanan bukan sekadar aspek teknis, melainkan bagian integral dari tata kelola pendidikan. Sinergi antara kampus, aparat penegak hukum, pemerintah, dan masyarakat dinilai menjadi kunci untuk memastikan tragedi serupa tidak kembali terulang.