Selain tawuran, penggunaan petasan selama Ramadan juga menjadi perhatian serius. Menurutnya, petasan bukan hanya mengganggu ketenangan warga yang sedang beribadah, tetapi juga berpotensi menimbulkan bahaya kebakaran dan cedera.
“Petasan dan sejenisnya jelas melanggar regulasi dan aturan hukum. Jangan sampai mengganggu masyarakat lain yang sedang menjalankan ibadah puasa,” tegasnya.
Ia memastikan bahwa remaja yang kedapatan menyalakan petasan secara sembarangan juga akan dimasukkan ke dalam program pembinaan serupa. Namun, Abdul Waras menekankan bahwa pendekatan ini tidak semata-mata bersifat represif, melainkan edukatif dan preventif.
Untuk merealisasikan program tersebut, Polres Metro Depok akan berkoordinasi dengan pemerintah daerah, dinas pendidikan, serta tokoh agama dan pengelola pondok pesantren. Sinergi lintas sektor dinilai penting agar program pembinaan berjalan efektif dan tepat sasaran.
Menurut pengamat kriminologi dari salah satu perguruan tinggi di Jakarta, pendekatan pembinaan berbasis komunitas dan keagamaan bisa menjadi alternatif solusi jangka pendek dalam menekan kenakalan remaja. Namun, ia juga mengingatkan pentingnya keterlibatan keluarga sebagai garda terdepan pengawasan.
Sejalan dengan itu, Abdul Waras mengakui bahwa keterbatasan jumlah personel menjadi tantangan tersendiri bagi kepolisian dalam mengawasi seluruh wilayah Depok yang cukup luas. Karena itu, ia mengajak peran aktif orang tua dan masyarakat.
“Jumlah personel kami masih terbatas. Kami berharap orang tua lebih peduli kepada anak-anaknya, terutama pada malam hari. Tanyakan mereka hendak ke mana dan untuk keperluan apa,” ujarnya.
Polres Metro Depok juga akan membentuk tim patroli khusus selama Ramadan. Tim ini akan bekerja sama dengan unsur TNI dari Kodim 0508/Depok serta jajaran Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda). Patroli difokuskan pada titik-titik rawan tawuran dan gangguan keamanan serta ketertiban masyarakat (kamtibmas).
Selain itu, kegiatan Sahur on The Road turut menjadi perhatian. Abdul Waras menyebut kegiatan tersebut kerap memicu kerumunan dan potensi gesekan antar kelompok. Ia menilai kegiatan tersebut lebih banyak menimbulkan mudarat dibanding manfaat jika tidak dikelola dengan baik.
“Kami bersama Forkopimda akan menyikapi kegiatan Sahur on The Road. Jangan sampai niat berbagi justru berujung keributan atau gangguan kamtibmas,” katanya.

Tinggalkan Balasan